Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Chrome Lebih Sering Dipakai "Browsing" Ketimbang Firefox

Berita Gres. Web browser Google, Chrome berhasil menjadi nomor dua pemegang pangsa pasar browser Internet terbesar, menggeser Mozilla Firefox. Ini merupakan kali pertama keberhasilan Chrome menyalip Firefox.

Peringkat teratas masih tetap dipegang oleh Internet Explorer, browser milik Microsoft. Meski tak populer di kalangan pengguna, IE masih tetap menjadi browser yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Data ini dilansir oleh firma analisis StatCounter pada Jumat (2/11/2011).

Chrome tercatat sanggup meraih 25,69 persen pangsa pasar browser dunia, naik drastis dari hanya 4,66 persen pada November 2009 lalu. Firefox yang terdepak ke posisi tiga angka, yang sebenarnya raihannya hanya terpaut sedikit dari Chrome, yaitu sebesar 25,23 persen. Sedangkan, sang jawara Internet Explorer masih perkasa dengan raihan pangsa pasar sebesar 40,63 persen.

StatCounter menyebutkan metode riset web browser yang mereka lakukan adalah dengan memantau kuantitas penggunaan browser yang digunakan untuk mengakses web, bukan dari jumlah download-nya. Yang berarti, Chrome tak hanya lebih banyak di-download oleh pengguna tetapi juga lebih sering digunakan untuk mengakses web, dibanding Firefox.

Mendekatnya Chrome ke Internet Explorer mensahihkan persaingan antara Google dan Microsoft di industri teknologi informasi dunia. Selain bersaing di ranah mesin pencari, mereka berdua juga bersaing di segala bidang, misalnya di ranah sistem operasi di mobile.

Sumber : kompas.com
Baca Terusannya »»  

Listrik Tanpa Kabel, Sistem Standar Pengisian Baterai Mobil


Sistem pengisian nirkabel akan menjadi standar dalam pengisian mobil listrik karena kepraktisan. Hal tersebut dikemukakan oleh Laura Marino, Wakil Direktur Riset Sistem Elektronik dan Elektrik Oak Ridge National Laboratory kepada beberapa ratus insinyur yang mengikuti konferensi "Automotive Power Electronic", yang diselenggarakan oleh SAE Perancis, SIA, April lalu.

“Bayangkan seorang ibu dengan tiga anak sehabis berbelanja dengan banyak tetengan di tangan! Pasti tidak akan ingat memasang mobilnya ke stop kontak di garasi,” komentar Marino. Dengan sistem pengisian ini, tak perlu lagi menggunakan kabel, colokan, dan stop kontak listrik. Pengisian dilakukan tanpa tangan. Mobil diparkir di atas alat pengisi atau sumber tenaga, setelah itu pengisian akan berlangsung dengan sendirinya. Dijelaskan pula, sistem bisa digunakan atau dipasang di garasi, di tempat parkir, bahkan di tempat bus, taksi atau kendaraan antar-jemput mangkal menunggu penumpang.

Sistem pengisian baterai nirkabel sebenarnya saat masih dalam tahap pengembangan. Sekarang ini ada beberapa sistem nirkabel yang dikembangkan, yaitu induksi, penerus tenaga atau energi (energy/power coupling), resonansi, penerus magnetik resonan (resonant magnetic coupling).

Sistem induksi nirkabel yang dibuat oleh Oak Ridge bisa memindahkan tenaga listrik 5 kW dengan celah 25,4 cm (1 inci) dan efisiensi di atas 90 persen. Kelemahan sistem ini, gulungan kabel atau koil yang digunakan untuk menghasilkan tenaga listrik akan panas dan selanjutnya mengurangi efisiensi kerja (dibandingkan dengan kontak langsung). Di samping itu, sistemnya lebih rumit karena dilengkapi dengan kontrol elektronik. Harganya pun jadi mahal.

Sementara sistem resonansi yang dikembangkanWiTricity menggunakan resonator magnetik, diklaim mampu memidahkan tenaga lebih efisien dan celah lebih besar. (Zulkifli BJ)

sumber: kompas.com
Baca Terusannya »»  

Bukti-Bukti Kehidupan Awal Bumi Ada di Bulan


Mengetahui bagaimana kehidupan dimulai di planet Bumi adalah salah satu target utama ilmu pengetahuan. Sejumlah peneliti asal Inggris memiliki teori baru. Mereka yakin kunci untuk mengetahui misteri bentuk kehidupan awal di Bumi justru berada di bulan.
Peneliti menyebutkan, batu-batuan yang berasal dari planet Bumi terlempar ke bulan saat asteroid membombardir Bumi dan inner planet (planet paling dekat dengan Matahari) lainnya.

Sebagai informasi, sekitar 4 miliar tahun lalu, terjadi fenomena hujan meteor yang disebut sebagai Late Heavy Bombardment. Ketika itu, planet Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars dihujani oleh ribuan asteroid dan meteorit yang menghantam permukaan planet.

Fenomena sangat mengerikan yang berlangsung selama 300 juta tahun itu memiliki efek beragam pada planet-planet yang ketika itu masih muda, salah satunya adalah pelontaran miliaran ton material dari permukaan planet ke luar angkasa.

Pada kasus Bumi, sebagian material itu kemungkinan berhasil tiba di Bulan. Hipotesis ini sangat masuk akal, mengingat di kutub selatan Bumi pernah dijumpai meteorit yang terbukti berasal dari planet Mars.

Untuk itu, sangatlah mungkin berasumsi bahwa planet-planet terdalam saling bertukar material saat Late Heavy Bombardment. Demikian pula dengan Bumi dan Bulan yang juga saling bertukaran material.

Menurut sejumlah pakar dari University of London Birkbeck College School of Earth Sciences, material milik Bumi itu telah mendarat di Bulan dengan mulus sehingga memungkinkan tanda-tanda biologis tetap tersimpan dengan baik.

Dikutip dari Softpedia, 5 Mei 2011, tim peneliti yang diketuai oleh Ian Crawford dan Emily Baldwin menyebutkan, tanda-tanda biologi itu justru tidak akan mampu bertahan di Bumi karena besarnya dampak tumbukan meteor, erosi akibat angin dan hujan, aktivitas volkanik, gempa bumi, dan penguasaan habitat oleh spesies makhluk hidup lain.

Dalam sejumlah simulasi komputer, tim peneliti menunjukkan sebongkah material yang terpental ke arah Bulan akibat tumbukan asteroid pada bumi akan mendarat di permukaan Bulan dengan kecepatan 2,5 kilometer per detik atau kurang. Dengan temperatur yang ada di Bulan, tidak ada bagian dari material itu yang mendekati tekanan puncak yang mengakibatkan material itu meleleh.

Sayangnya, teori baru ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah sampai manusia kembali pergi ke Bulan, mengumpulkan sampel bebatuan dari sejumlah lokasi, dan membawa pulang ke Bumi untuk dianalisa secara mendalam. Namun, melakukan penelitian seperti itu akan memberikan kita pengetahuan yang luar biasa akan sejarah kehidupan di planet Bumi.

sumber: vivanews.com
Baca Terusannya »»  

Ditemukan, Virus untuk Optimalkan Sel Surya


Peneliti asal Massachusetts Institute of Technology (MIT) berhasil menemukan cara untuk meningkatkan efisiensi proses konversi sinar matahari menjadi energi secara signifikan.

Caranya, mereka menggunakan virus untuk melakukan proses perakitan di tingkat mikroskopik. Adapun “pekerjaan” yang dilakukan virus itu antara lain adalah berinteraksi dengan karbon nanotube.

Tabung nano karbon, seperti diketahui sebalumnya, menawarkan potensi perbaikan teknologi, khususnya di bidang penyimpanan energi seperti sel bahan bakar dan thermocell.

Pada kasus panel surya, MIT menyebutkan, rongga silinder berukuran mikroskopik yang terdiri dari karbon murni ternyata apat meningkatkan efisiensi dari pengumpulan elektron dari permukaan sel surya. Namun demikian, peneliti menghadapi sejumlah tantangan saat berurusan dengan nanotube.

Masalah pertama, pembuatan nanotube karbon umumnya menghasilkan dua jenis nanotube. Sebagian bersifat seperti semikonduktor yang kadang memungkinkan listrik mengalir, dan kadang tidak. Ini merupakan tipe yang menguntungkan karena bisa meningkatkan performa sel surya.

Jenis kedua yang dihasilkan memiliki bersifat seperti logam yang berfungsi seperti kabel. Selalu memungkinkan listrik mengalir. Ini justru mengurangi performa produk panel surya yang dihasilkan.

Masalah kedua, nanotube juga cenderung mengumpul. Ini juga menurunkan tingkat efektivitasnya. Di sinilah virus berguna.

Peneliti MIT mendapati bahwa sebuah versi virus yang sudah dimodifikasi secara genetik, yang disebut M13 yang umumnya menginfeksi bakteria, bisa digunakan untuk mengontrol susunan nanotube pada permukaan, membuat tabung-tabung itu tetap terpisah sehingga tidak menimbulkan arus pendek serta menjaga tabung-tabung itu tetap berjauhan agar tidak saling menempel.

Menurut Angela Belcher, Professor of Energy dari MIT yang mengetuai penelitian, proses ini hanya menambahkan satu langkah sederhana pada proses pembuatan sel surya. “Proses ini juga tidak sulit untuk diadaptasi oleh fasilitas produksi yang ada saat ini,” ucap Belcher, seperti dikutip dari Earth Techling, 2 Mei 2011.

Belcher menyebutkan, sistem yang ditelitinya diuji dan menggunakan sel surya dari jenis yang disebut dengan sel surya peka warna (dye-sensitized). Namun, timnya yakin bahwa teknik ini juga bisa diaplikasikan pada sel surya tipe lain.

Dalam uji coba, mereka berhasil meningkatkan efisiensi konversi energi dari 8 persen menjadi 10,6 persen. Artinya, menggunakan teknik ini, peningkatan sekitar 32 persen atau nyaris satu per tiga kali lipat berhasil diraih.

sumber: vivanews.com
Baca Terusannya »»  

Angry Birds Akhirnya Masuk Windows Phone 7


Angry Birds, game buatan Rovio, Finlandia yang sedang populer saat ini bakal menambah versi baru untuk platform Windows Phone 7. Rovio dan Microsoft memastikan game yang menggunakan karakter utama burung tersebut akan tersedia mulai 25 Mei 2011.

Sejak awal, Rovio memang berjanji bahwa Angry Birds akan tersedia dalam semua platform. Namun, Rovio sempat geram saat Microsoft menggunakan logo Angry Birds pada salah satu iklan smartphone Windows Phone 7. Rovio sempat memprotes Microsoft karena logonya digunakan tanpa izin.

Angry Birds untuk Windows Phone 7 awalnya akan diluncurkan Februari 2011 lalu. Namun, ditunda keran masalah hukum tersebut. Kini, perselisihan antara Microsoft dan Rovio telah berakhir. Microsoft mengumumkan secara resmi kepastian tersedianya Angry Birds untuk WP7 saat acara MIX 11 di Las Vegas, AS, Rabu (13/4/2011).

Sebelumnya, Angry Birds telah menjadi game terpopuler di iPhone dan iPad buatan Apple serta Android buatan Google. Rovio telah merilis beberapa versi permainan baik standar maupun berdasarkan musim. Terakhir Angry Birds Rio

sumber: kompas.com
Baca Terusannya »»  

Dokter Pakai iPod untuk Bantu Operasi Bedah


iPod lebih mudah digunakan dan memberikan akurasi dan presesi sama dengan komputer.
Saat dokter Arun Mullaji, ahli bedah ortopedi dari Breach Candy Hospital, Mumbai, India melakukan operasi penggantian lutut, ia menyelipkan seperangkat iPod ke mantel bedahnya. Namun, ia tidak mendengarkan musik.

“Pembedahan dengan alat bantu komputer sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Akan tetapi sistem yang digunakan cukup merepotkan proses operasi,” kata Mullaji, seperti dikutip dari HindustanTimes, 17 April 2011. “Pembedahan dengan bantuan komputer memiliki tingkat akurasi 90 sampai 95 persen, namun cara ini meningkatkan akurasi dan persisi ke level berikutnya,” ucapnya.

iPod, kata Mullaji, lebih mudah digunakan dan memberikan tingkat akurasi dan presesi yang sama dengan komputer. Saat percobaan, Mullaji melakukan pembedahan penggantian lutut terhadap Gulab Sanghvi, 75 tahun, dengan bantuan DASH Smart Instrument System.

iPod yang dikenakan dokter terhubung secara nirkabel lewat koneksi WiFi ke sebuah kamera. DASH Smart Instrument System kemudian akan memberi tahu dokter lewat layar iPod secara tepat seputar di mana dan berapa dalam pembedahan perlu dilakukan dan di mana menempatkan tulang sendi baru.

“Paramedis bisa menentukan posisi yang sejajar antara persendian dengan kaki lewat layar iPod,” kata Mullaji. “Dari penelitian diketahui bahwa saat teknologi komputer digunakan untuk membantu operasi pembedahan persendian, pasien tidak terlalu merasakan nyeri dan kehilangan darah dalam jumlah yang lebih sedikit,” ucapnya.

Saat digunakan, layar iPod menunjukkan posisi, sudut, ukuran setiap titik serta pergerakan sensor yang dihubungkan padanya. “Navigasi menggunakan iPod membantu sistem dalam memberikan posisi persendian tulang dengan titik presisi hingga 0,1 milimeter,” ucapnya.

sumber: vivinews.com
Baca Terusannya »»  

Sains & Teknologi Lenovo Siapkan Tablet Bongsor 23 Inci


Tablet ini diperuntukkan di rumah, bisa menjadi TV atau untuk bermain game keluarga.
Kini para vendor komputer tak malu-malu lagi mengikuti jejak Apple yang sukses dengan iPad, dengan meluncurkan berbagai komputer tablet versi mereka.
Bahkan tahun ini Lenovo berencana untuk meluncurkan tablet berukuran 'raksasa', yakni komputer tablet dengan layar sebesar 23 inci.

Kabar itu diumumkan langsung oleh William Cai, Senior Specialist Marketing Lenovo saat menghadiri sebuah dialog di ajang Gadget Show Live. "Kami berharap, tablet ini bisa diluncurkan akhir tahun ini," ujar Cai, seperti dikutip situs TechRadar.

Langkah ini tentu saja cukup mengejutkan, karena biasanya konsumen mengutamakan aspek mobilitas dan portabilitas untuk sebuah komputer tablet. Namun, Lenovo sangat optimistis bahwa pasar akan merespon dengan baik.

"Kami pikir tablet berukuran 23 inci punya potensi," kata Cai. Ia mengakui, mungkin tablet ini memang tidak terlalu mobile. Namun, kata dia, tablet ini bisa berguna saat digunakan di ruangan-ruangan rumah.

Apalagi, Cai menjelaskan, tablet ini bisa dipakai menggunakan papan kunci, atau juga sebagai televisi. "Atau Anda juga bisa memasangnya di meja untuk bermain game bersama keluarga," kata Cai.

Tentu saja, Cai mengakui tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan tablet 'bongsor' ini.

Misalnya saja, ukuran yang besar, tentu saja akan menyebabkan penggunaan baterai yang boros dan mengupayakan bobot tablet untuk tidak terlalu berat.

Apalagi, harga layar sentuh sebesar itu tentu saja pasti akan membuat tablet itu menjadi sangat mahal.
sumber: vivanews.com
Baca Terusannya »»  

Membersihkan Arsen dari Tanah dengan Tumbuhan

Untuk mengatasi limbah arsen yang larut dalam tanah, para ilmuwan menggunakan tumbuhan yang mampu mengekstraknya dari tanah. Tumbuhan direkayasa agar dapat menyerap arsen dari akarnya

Untuk mengatasi limbah arsen yang larut dalam tanah, para ilmuwan menggunakan tumbuhan yang mampu mengekstraknya dari tanah. Tumbuhan direkayasa agar dapat menyerap arsen dari akarnya kemudian mengirimkan ke batang tubuh, ranting, hingga daun-daunnya sehingga mudah dibakar, dikeringkan, atau dikemas untuk diamankan.


Arsen adalah material semi-logam yang biasa digunakan sebagai bahan campuran pestisida, insektisida, dan herbisida. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kandungannya yang terlalu tinggi di dalam tubuh dapat memicu kanker kulit, paru-paru, kandung kemih, dan ginjal.

Beberapa wilayah daratan dan perairan di dunia diketahui mengandung arsen dalam kadar tinggi. Sementara itu, metode yang biasa dipakai untuk mengatasi arsen masih terlalu mahal. \"Banyak tempat-tempat terkontaminasi arsen yang tidak segera dibersihkan,\" kata Richard Meagher, seorang ahli genetika dari Universitas Georgia.

Phytoremediation

Teknik membersihkan polusi tanah menggunakan tumbuh-tumbuhan atau disebut phytoremediation terbukti dapat dipakai untuk membersihkan arsen dengan ongkos lebih murah. Namun, arsen yang diserap tumbuhan biasanya hanya terkumpul di akar sehingga tetap mengalami kendala memisahkannya dari tanah.

Untuk itu, para peneliti merekayasa gen pada Arabidopsis, jenis tumbuhan yang masih satu keluarga dengan sawi, agar resisten terhadap arsen dan mengirimkan arsen yang diserap akarnya ke batang dan daunnya. Teknik ini lebih efisien sebab dapat menyerap arsen hingga 16 kali lipat daripada yang mampu dilakukan tumbuhan Arabidopsis normal.

\"Kami berharap kemampuannya mengikat arsen meningkat antara 35 hingga 50 kali lipat dan kami telah mengetahui mekanismenya sekarang. Kami yakin hal tersebut mungkin tercapai,\" kata Meagher. Temuannya dijelaskan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences edisi terbaru.

Sumber: LiveScience.com
Baca Terusannya »»  

Pengunjung

free counters

Chatting


ShoutMix chat widget